Kisah Sampar dan Covid-19

Penulis: drg. Rustan Ambo Asse, Sp.Pros
Tanggal posting: 2021-11-04

Pandemi Covid-19 mengingatkan kita pada ulasan Albert Camus dalam novelnya yang berjudul "Sampar". Kisah itu menggambarkan bagaimana kutu-kutu menumpang hidup sebagai parasit pada ribuan tikus mati secara tiba-tiba di sebuah kota kecil bernama Oran di Negara Prancis. Adalah dokter Bernard Rieux yang gelisah dan berjuang mati-matian melawan Pandemi Sampar itu merasakan sebuah tragedi pergulatan nurani, bagaimana satu kematian manusia pada awalnya menjadi bertambah secara eksponensial menjadi puluhan, ratusan hingga ribuan mayat setiap hari.

Dari Pandemi Sampar itu, kota kecil Oran menjadi kehilangan jati diri sebagai kota yang dinamis, penghuni kota yang pada awalnya tidak tahu, memandang remeh, hingga ratusan korban menyadarkan pemerintah setempat untuk karantina wilayah, dan akhir dari segalanya kota itu telah direnggut oleh pandemi menjadi tragedi kehilangan orang-orang terkasih, keluarga dan keterasingan sebagai manusia.

Sampar dalam kisah yang dihadapi dokter Riuex menjadi kenyataan sejarah yang kini dihadapi oleh manusia-manusia modern. Pandemi Covid-19 yang awalnya dari Wuhan, kini menyebar ke 203 negara di dunia dengan jumlah 938.565 kasus. 47.303 meninggal dunia dan 195.397 sembuh. Data ini dirilis salah satu media nasional pada tanggal 2 April 2020.

Tentang COVIDľ19

Satgas Covid-19 Universitas Hasanuddin merilis artikel edukasi virus ini yang diantaranya dijelaskan sebagai berikut; Novel Coronavirus atau juga dikenal sebagai Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan SARS-CoV2 yang termasuk dalam bagian keluarga besar Coronavirus. Virus Corona pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh Tyrell dan Bynoe. Dan Covid-19 ditemukan pertama kali pada Desember 2019, di Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Tiongkok.

Berdasarkan bukti ilmiah, Covid-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui droplet (percikan liur saat batuk atau bersin), tidak melalui udara atau airborne. SARS-CoV2 memiliki afinitas reseptor yang tinggi, sehingga virus ini dapat menular dengan cepat. Virus ini perlu diwaspadai karena progresifitasnya yang tinggi untuk bertransmisi baik dari manusia ke manusia maupun dari benda yang tercemar ke manusia.

Perang Melawan COVID-19

Jika perlawanan melawan virus ini diibaratkan serupa perang, maka data-data yang muncul sebagai fakta sejarah membuktikan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sekalipun yang menjadi representasi negara demokrasi dengan sistem pelayanan kesehatan yang lebih mapan kini berjuang mati-matian melawan virus ini. Dalam era modern ketika negara-negara maju kerap mempertontonkan kecanggihan rudal, teknologi senjata militer yang serba modern, kini seolah bertekuk lutut menghadapi Covid-19.

Sun Tzu telah memberi petuah dalam buku The Art Of War, "Seni Perang Tertinggi adalah Menaklukkan Musuh Tanpa Pertempuran". Pesan ini sepertinya sangat relevan saat ini, melawan virus yang tak nampak oleh mata seolah memukul angin. Virus yang tak terlihat itu dapat dengan cepat menyelinap masuk ke saluran pernafasan atas melalui mulut, mata dan hidung. Menginfeksi paru-paru dan berkembang biak di sana mengakibatkan sesak nafas hingga kematian.

Jalan terbaik melawan virus ini adalah menghindarinya atau tidak melawannya. Itulah sebabnya metode karantina wilayah merupakan salah satu cara terbaik untuk memutus mata rantai penularan. Covid-19 menjadikan area publik sebagai media transmisi yang efektif seperti bandar udara, pelabuhan, minimarket dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Social Distancing akan tidak bermakna jika mobilitas masyarakat antara wilayah zona merah, kuning dan hijau masih terbuka lebar.

Bagaimana Strategi Indonesia?

Ketika Wuhan berhasil dengan tidak adanya kasus baru untuk satu minggu terakhir, memberikan sinyal harapan kepada dunia termasuk Indonesia. Tapi Indonesia bukanlah Wuhan yang dengan cepat melakukan lockdown. Indonesia tidak punya kemampuan seperti Tiongkok yang memanfaatkan teknologi digital berbasis big data untuk mengontrol masyarakatnya. Di Wuhan masyarakat terpantau melalui teknologi digital, yang mana masuk kode merah, kuning dan hijau. Perkembangan kasus Covid-19 di sana terkoneksi dan terpantau secara tertib oleh pemerintah setempat.

Ketika negara lain bisa mengambil keputusan cepat lockdown, Indonesia masih tarik ulur pusat dan daerah. Peristiwa ini mengingatkan kembali kepada substansi desentralisasi sejauh mana kewenangan sejati seorang kepala daerah melindungi masyarakatnya.

Harus diakui jika ini adalah sebuah peperangan, maka kita akan kalah sejak pertama bergulirnya pertempuran. Tenaga Medis sebagai pertahanan terakhir yang tidak dilengkapi APD yang standar adalah bunuh diri dan memberikan gambaran betapa tidak siapnya kita menghadapi pandemi. Hari ini bahkan telah gugur 16 orang dokter, angka terbanyak melampaui Tiongkok. Itu belum termasuk paramedis yang terpublikasi.

Kita membutuhkan strategi komprehensif dari pemerintah pusat yang mampu membuat masyarakat dan tenaga kesehatan menjadi tenang. Pemerintah daerah mestinya diberi kewenangan khusus (desentralisasi kebijakan) terkait penanggulangan Covid-19 ini. Karantina wilayah bukan tidak mungkin bisa dilakukan dengan konsekuensi anggaran diberikan kepada pemerintah daerah yang mampu dan secara selektif subsidi untuk daerah-daerah yang kurang mampu. Pertanyaannya apakah Perpu Nomor 1 Tahun 2020 cukup sakti melawan Covid-19? Mari kita berusaha dan berdoa bersama.